Airway Bill

Pengangkutan kargo dan pos menggunakan moda transportasi udara menunjukkan peningkatan kegiatan perdagangan secara global. Dalam konteks supply chain dan logistik, moda transportasi udara (air freight) menjadi pilihan karena pertimbangan kebutuhan waktu yang lebih cepat, meski harus mengorbankan biaya yang relatif lebih mahal dan keterbatasan volume kiriman yang dapat diangkut. Kargo dan pos yang diangkut menggunakan pesawat udara, seperti kita ketahui, sebuah kiriman (shipment) kargo dan pos dari pengirim untuk sampai kepada penerima, selain tarif SMU, dikenakan juga tarif sewa gudang (terminal fee), tarif jasa KADE atau Kawasan Depan (handling charges), cargo service charges, dan tarif Regulated Agent. Beberapa pengelola Regulated Agent di bandara juga membebankan tarif administrasi, tarif dokumen, tarif EDI, dan barcode, tergantung dari pengelolanya. Aktifitas dan service charges ini semata-mata untuk memenuhi ketetentuan regulasi keamanan penerbangan.

Airway bill merupakan salah satu dokumen pokok dalam perjalanan barang internasional (transport document) dengan menggunakan moda transportasi jalur udara. Dokumen tersebut berisi kontrak antara shipper dengan air carrier sebagai freight forwarder. Airway bill juga dapat menjadi nota barang, invoice, kebutuhan ekspor dan transit bea cukai. Selain sebagai dokumen pengangkutan udara atau Bill of Lading, Airway Bill juga berfungsi untuk mencairkan sejumlah dana yang dibuka oleh importir untuk eksportir pada Letter of Credit (L/C). Letter of Credit bisa dibuka jika ada dokumen Airway Bill asli. Airway Bill disebut juga sebagai consignment note yang dibuat oleh Airlines atau Agent untuk shipper dan merupakan kontrak antara pengangkut (carrier) dan shipper untuk mengangkut barang yang dikirimnya sesuai dengan rute yang ditentukan. Airway Bill hanya dapat digunakan untuk kiriman barang-barang pribadi atau pengiriman Consolidated Shipments (yang digabung menjadi satu).

Sifat dari Airway Bill berbeda dengan Bill of Lading. Pada pengangkutan kapal, sifat dari kontraknya dapat berubah-ubah antara negotiable atau non-negotiable sesuai dengan kesepakatan. Namun, pada Airway Bill hanya ada kontrak bersifat non-negotiable. Perkataan non-negotiable yang tercantum di Airway Bill berarti Airway Bill tersebut bersifat langsung dan berbeda dengan Bill of Lading dari pengangkutan laut. Siapapun tidak boleh menerbitkan Airway Bill negotiable, sehingga siapapun tidak boleh menghilangkan perkataan “Non-Negotiable” dari Airway Bill tersebut.

Airway Bill dibagi menjadi dua, yaitu House Airway Bill (HAWB) dan Master Airway Bill (MAWB). Master Airway Bill diterbitkan oleh perusahaan airlines. Penggunaan HAWB dan MAWB tergantung dari kebutuhan, biasanya jika pengiriman langsung ke tujuan menggunakan HAWB. Namun, jika ada transhipment atau pindah kapal menggunakan MAWB. Ada juga istilah Airway Bill Surrender, yaitu salinan Airway Bill yang telah diserahkan (di-surrender) oleh pihak bank yang menandakan Airway Bill tersebut telah dilunasi termasuk biaya bea masuk. Airway Bill Surrender kedudukannya sama dengan Airway Bill original, proses pengeluaran barang di gudang, pihak freight forwarder tidak perlu menunggu Airway Bill yang telah diserahkan (di-surrender).

Airway Bill atau Surat Muat Udara harus dibuat sesuai dengan Rule Section 6.2 (akurat dan lengkap). Airway Bill adalah dokumen non-negotiable yang minimum terdiri dari 8 (delapan) salinan yang terdiri atas:

A. Original 1

Lembar berwarna hijau. Diperuntukan bagi pengangkut dan berguna untuk penyelesaian accounting (administrasi). Juga sebagai bukti dari kontrak pengangkutan.

B. Original 2

Lembar berwarna pink. Diberikan kepada consignee (penerima barang). Original 2 ini akan menyertai barang kiriman sampai di tempat tujuan, lalu akan diserahkan kepada consignee.

C. Original 3

Lembar berwarna biru. Diberikan kepada shipper dan berguna sebagai bukti penerimaan barang; bukti tertulis dari perjanjian antara carrier (pengangkut) dan shipper (pengirim) dalam sebuah kontrak pengangkutan.

Sesuai dengan Konvensi Warsawa dan Hague Protocol, dan sesuai dengan syarat yang tertera pada persyaratan pengangkutan, shipper yang berkewajiban untuk menyiapkan penerbitan Airway Bill. Pengisian data dan informasi dalam Airway Bill haruslah valid. Shipper akan bertanggung jawab akan hal yang merugikan atau merusakkan yang diakibatkan karena kesalahan ataupun ketidakbenaran ataupun kekurangan, untuk hal yang tertulis pada AWB atau SMU. Maka diperlukan tanda tangan shipper (pengirim) atau atas namanya sebagai pengesahan AWB tersebut. Dengan ditandatanganinya AWB, sekaligus shipper setuju terhadap segala syarat pengiriman yang tercantum di belakang AWB sebagai kontrak pengangkutan.

Jika Airway Bill sudah ditandatangani oleh carrier (pengangkut), maka kedua pihak telah setuju atas kontrak yang terjadi. Validitas Airway Bill tersebut akan berakhir ketika barang kiriman diserahkan kepada consignee (penerima) di tempat tujuan.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan dan Download E-Book Bagus

* indicates required

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *