Pengertian Bill of Lading

Bill of Lading atau dikenal dengan sebutan Bill of Loading. Dokumen ini merupakan salah satu dokumen penting dalam proses freight forwarding. Banyak jenis dan bentuk dari bill of lading, namun peran utamanya tetap sama yaitu sebuah dokumen kunci bagi pengangkutan barang. Umumnya, bill of lading berisi nota barang yang dikirimkan. Pengertian bill of lading atau konosemen ialah surat bertanggal dimana pengangkut menerangkan bahwa ia telah menerima barang tertentu untuk diangkut ke suatu tempat tujuan yang ditunjuk dan menyerahkannya kepada penerima disertai dengan kesepakatan penyerahan. Bill of lading merupakan dokumen shipping yang paling penting, karena mempunyai sifat jaminan atau pengamanan. Bill of Lading menunjukkan hal pemilikan atas barang-barang yang dikirim melalui laut ke sesuatu tujuan tertentu, dan selanjutnya barang-barang tersebut diserahkan kepada penerima.

Penggunaan Bill of Lading (B/L) sebagai bagian dari dokumen yang dibutuhkan dalam perdagangan internasional melibatkan berbagai pihak, antara lain shipper atau pihak yang bertindak sebagai beneficiary, Consignee atau pihak yang diberitahukan tentang tibanya barang-barang, Notify party atau pihak yang ditetapkan dalam Letter of Credit (L/C) dan Carrier atau pihak pengangkutan atau perusahaan pelayaran.

Dalam pelaksanaannya saat ini, proses pengiriman barang melibatkan pihak ketiga sebagai Intermediary atau perantara. Pihak ketiga sangat membantu dalam proses pengiriman barang lintas kota atau negara. Walaupun sebenarnya pihak ketiga seperti freight forwarder, custom broker dan stevedore tidak terlibat dalam kontrak pengiriman barang (contract of carriage). Keberadaan forwader dalam pengiriman barang tersebut yang pada akhirnya dikenal dua dokumen diantaranya House Bill of Lading dan Master Bill of Lading.

Pengirim barang menyerahkan barangnya kepada forwarder dan pengirim barang akan menerima dokumen yang dinamakan House Bill of Lading. Kemudian forwarder akan menghubungi perusahaan pelayaran yang memiliki armada dan jadwal pelayaran ke kota atau negara tujuan sesuai instruksi pengirim. Perusahaan pelayaran kemudian akan menginformasilkan lokasi dan jadwal penerimaan barang kepada forwarder. Dalam proses serah terima barang, perusahaan pelayaran akan menerbitkan Master Bill of Lading kepada forwarder sebagai bukti bahwa barang sudah diterima.

Bill of lading dibuat oleh freight forwarder sebagai bukti penerimaan barang untuk diangkut. Bill of lading juga sebagai kontrak persetujuan bahwa freight forwarder setuju untuk mengangkut barang sampai ke tujuan dengan tarif sesuai dengan ketentuan, dalam artian tanpa pungutan liar. Bill of lading dibagi menjadi dua antara lain bill of lading untuk pengangkutan jalur darat dan bill of lading untuk pengangkutan jalur laut atau jalur udara. Rute pengangkutan domestik umumnya dikendalikan oleh perusahaan angkutan darat atau kereta api terminal ekspor. Setiap perusahaan transportasi memiliki memiliki formulir bill of lading tersendiri. Bill of lading jalur darat harus disusun berdasarkan instruksi dan ketentuan yang telah disepakati bersama freight-forwarder atau tranportasi pengangkut.

Bagi freight forwarding jalur laut, dokumen bill of lading dipersiapkan oleh eksportir atau freight forwarder dan dikeluarkan atau dirilis oleh perusahaan kapal. Informasi dalam bill of lading yang berkaitan dengan nomor, kuantitas, berat, dan barang berbahaya, ditulis oleh pengangkut (carrier) berdasarkan informasi dari pengirim (shipper), dan pengirim (shipper) bertanggung jawab penuh atas kebenaran informasi yang diberikan. Berbeda halnya jika pengangkutan dilakukan melalui jalur udara, perusahaan pesawatlah yang akan menyiapkan dan merilis bill of lading, atau sebutannya airway bill. Freight forwarder akan meminta airway bills, yang mana tidak diberikan kepada pengangkut (carrier) namun diberikan kepada pengirim (shipper) sebagai bukti pengiriman. Dalam beberapa kasus, freight forwarder yang berperan menjadi pengirim (shipper) dalam dokumen master bill of lading.

Formulir bill of lading, entah dalam jalur darat atau laut, dapat dirilis dengan sifat non-negotiable atau negotiable. Namun untuk formulir airway bill hanya bersifat non-negotiable saja. Jika bill of lading bersifat non-negotiable, pengangkut harus mengirimkan barang tersebut hanya kepada penerima yang namanya tertera dalam bill of lading. Jika bill of lading bersifat negotiable, pihak yang memiliki hak untuk menerima kiriman dan melanjutkan pengangkutan ialah pihak yang ikut memiliki kepemilikan atas bill of lading saat proses negosiasi. Bill of lading dengan sifat negotiable diperuntukkan sesuai dengan permintaan pengirim (shipper), bukan nama penerima secara spesifik.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan dan Download E-Book Bagus

* indicates required

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *