5 Perilaku Penumpang Pesawat Modern Vs Medioker

pajak penumpang pesawat
Perilaku penumpang pesawat. Sebagai seorang petugas bea cukai bandara, secara bergilir dan terjadwal saya harus melayani dan mengawasi barang bawaan penumpang pesawat di terminal kedatangan internasional bandara Soekarno Hatta (Soetta). 

Sekedar informasi sampai saat postingan ini dipublish, terminal kedatangan Internasional Soetta yang digunakan ada di 2 lokasi yang terpisah yaitu di Terminal 3 dan Terminal 2 F.

Kalau diamati secara kasat mata, pesawat-pesawat di Terminal 2 tergolong pesawat Ekonomi dan pesawat-pesawat di terminal 3 adalah setingkat atau 1 level diatasnya.

Penumpang Pesawat

Layaknya orang yang bepergian ke luar negeri, tiap-tiap penumpang pesawat ketika tiba kembali ke tanah air biasanya membawa barang belanjaan.

Barang bawaan penumpang yang di beli dari luar negeri ini bisa berupa barang belanjaan pribadi, oleh-oleh, titipan atau barang keperluan perdagangan/industri.

Barang belanjaan pribadi bisa berupa tas tangan bermerk, jam tangan harga ratusan juta maupun sneaker limited edition.

Seperti telah kita ketahui bersama bahwa objek dari pengawasan petugas bea cukai bandara adalah barang bawaan penumpang.

Barang bawaan penumpang berupa belanjaan ini dibagi menjadi 2 kategori yaitu barang personal use dan non-personal use.

Pada kesempatan kali ini yang kita bahas adalah barang bawaan penumpang pesawat dan bukan barang bawaan awak sarana pengangkut.

Barang Personal Use VS Non-Personal use

Pertama kali di sodori barang bawaan penumpang oleh petugas tumbang bea cukai yang saya pikirkan adalah jenis kategori barang.

Agar tidak terjadi banyak perdebatan tentang definisi barang personal use dan non personal use, mari kita lihat petikan pasal 7 Peraturan Menteri Keuangan :PMK nomor 203/PMK.04/2017 dibawah ini :

Tidak bisa dipungkiri akan ada perdebatan yang bikin dada sesak tetapi sesuai dengan ayat 2, pejabat Bea dan Cukai berwenang menetapkan kategori barang bawaan penumpang.

Jika seorang penumpang tidak puas dengan penetapan saya, beliaunya akan saya arahkan ke Kantor Bea Cukai Soekarno Hatta di terminal kargo agar mendapatkan pencerahan atau kebijakan lain.

Sampai disini jika tidak ada perdebatan lagi maka penumpang pesawat akan mendapatkan haknya berupa pembebasan pajak impor atas barang bawaannya.

Pembebasan Pajak Barang Penumpang

Setiap penumpang pesawat akan mendapatkan pembebasan pajak atas barang pribadi sebesar USD 500.

Jadi yang mendapatkan pembebasan adalah perorangan dan tidak mengenal istilah keluarga.

Sekedar mengingat saja, dalam peraturan yang lama disebutkan bahwa besaran pembebasan pajak impor barang pribadi penumpang adalah USD 250/orang atau USD 1000/keluarga.

Selain pembebasan pajak, ada faktor lain yang dapat mengurangi tagihan pajak yaitu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Seorang penumpang yang mempunyai nomor ini berhak mendapatkan potongan atas PPh sebesar 50 %. Tetapi yang perlu di perhatikan, ini tidak berlaku untuk pajak bea masuk (BM) dan PPnnya.

Banyak kasus seorang penumpang tidak membawa fisik NPWPnya. Sepanjang dia bisa menunjukkan nomor dan kita cek benar adanya maka si penumpang berhak atas potongan PPh.

Salah satu tugas Bea Cukai di terminal kedatangan Internasional Soetta adalah melakukan penghitungan dalam rangka pembayaran pajak untuk barang bawaan penumpang pesawat untuk barang personal use yang terutang pajak.

Disini tidak akan dibahas bagaimana cara menghitung pajak impor barang pribadi penumpang.

Jika Anda ingin mengetahui bagaimana menghitung pajak impor barang penumpang maupun barang kiriman, Anda bisa membacanya di artikel sebelumnya tentang Kalkulator bea cukai.

Pada tulisan kali ini, pokok pikiran yang melandasi adalah respon penumpang atas pengenaan pajak terhadap barang personal use.

Sudah tidak sabar bagaimana perangai mereka ketika ditunjukkan nilai pajak yang harus dibayarkan?

Karakter Penumpang Pesawat

Secara kodrat manusia, penumpang pesawat diciptakan berbeda antara satu dengan yang lain baik dalam bentuk fisik maupun sikap dan perilaku.

Respon, karakter dan sikap berbeda akan keluar dari penumpang ketika ada kewajiban pajak yang harus ditunaikan atas barang bawaannya. 

Secara umum ada respon positif dan negatif. Dari reaksi spontan ini mencerminkan apakah dia seorang penumpang modern atau medioker.

Berikut adalah 5 perbedaan karakter/perilaku/respon yang ditunjukkan penumpang modern dan medioker ketika barang bawaannya ada kewajiban pajak yang harus dibayarkan :

1. Inisiatif vs Sembunyi – Sembunyi

Seorang penumpang modern dengan sukarela akan berinisiatif untuk melaporkan barang bawaannya kepada petugas bea cukai meskipun dia sudah melewati pemeriksaan X-ray bea cukai.

Sebaliknya, seorang penumpang medioker akan berusaha keras menyembunyikan dan tidak melaporkan barang bawaannya agar terhindar dari kewajiban pajak dan berpura – pura tidak mengerti peraturan yang berlaku.

2. Menjadi Diri Sendiri vs Berlindung Atas Nama Orang Lain

Penumpang modern siap dengan segala konsekuensi atas barang bawaannya. Ketika diberitahu bahwa ada kewajiban pajak atas barang belanjaannya, tanpa basa basi dia akan membayar dan bangga sebagai warga yang taat pajak.

Lain halnya dengan penumpang medioker, dia akan menyebut kenal si A atau keponakannya si B. Tujuannya tidak lain agar bisa lepas dari kewajiban atau mendapatkan pengurangan dalam pembayaran pajak.

3. Terus Terang vs Bisik – Bisik

Ketika seorang penumpang modern harus membayar pajak, maka dia tanpa basa basi langsung mengiyakan.

Biasanya penumpang medioker akan mencoba hal hal tidak sportif, berperilaku tidak jujur dan mencoba berbasa basi dengan petugas.

4. Pembelajar vs Mbodoni

Penumpang modern adalah pembelajar sejati. Dia akan mengisi customs declaration dan tidak ragu untuk bertanya kepada petugas untuk hal hal yang tidak dia mengerti.

Jenis penumpang yang kedua ini selalu bilang tidak tahu peraturan yang berlaku dan bilang bahwa baru pertama kali dengan barang barang bawaannya.

Padahal setelah di cek di database, dia sudah pernah membawa barang serupa. Alahkah bodohnya !

5. Mental Kaya vs Mental Miskin

Ketika seorang penumpang modern membeli barang mahal, dia tahu akan tanggungan yang harus dibayarkan/konsekuensinya.

Perilaku ini hadir dari mindset kayanya dimana membeli barang mahal dari sebagian kecil harta yang dia miliki. Dan sikap ini cuma dimiliki oleh mereka yang bermental kaya.

Lain lagi dengan penumpang medioker. Dia terlihat shock ketika diperlihatkan tagihan pajak yang harus dibayarkan. Mungkin karena dia membeli barang dari hasil menabung untuk tujuan gaya gayaan.

Kesimpulan

Tulisan kali ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan pribadi tiap-tiap penumpang pesawat.

Postingan ini juga tidak bermaksud menonjolkan dan merendahkan penumpang pesawat tertentu dengan berbagai latar belakang yang dimiliki yaitu keragaman  agama, ras maupun bangsa. 

Saya pribadi juga tidak memaksa seseorang untuk menjadi seorang penumpang modern maupun medioker, itu adalah pilihan.

Sepanjang pengamatan saya terhadap penumpang pesawat yang berbeda, tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa bisa dilihat dari perilaku penumpang pesawatnya.

Saya pribadi banyak belajar dari bermacam sikap, karakter dan perilaku para penumpang pesawat tersebut.

Sebagai pengingat pribadi yang lemah ini, wahai insan berseragam, pangkat dan jabatan adalah amanah dan titipin, ketika waktunya berakhir maka akan diambil dan dipertanggungjawabkan.

Semoga kita bisa belajar dari nilai nilai positif dari penumpang pesawat tersebut untuk Indonesia yang lebih baik dan beradab.

Jika ada hal-hal yang kurang berkenan atau ada permasalahan barang bawaan penumpang pesawat yang perlu didiskusikan silahkan sampaikan dikolom komentar.

Terima kasih.

Semoga bermanfaat dan selamat membaca 🙂

Berlangganan dan Download E-Book Bagus

* indicates required

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *