Tempat Penimbunan Sementara

tempat penimbunan sementaraTempat penimbunan sementara adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di kawasan pabean untuk menimbun barang, sementara menuggu pemuatan atau pengeluarannya. Tempat penimbunan sementara berada dan disediakan di Kawasan Pabean dan tempat penimbunan sementara dikelola oleh pengusaha tempat penimbunan sementara. Selain sebagai tempat bagi barang untuk dimuat, tempat penimbunan sementara (TPS) juga diperuntukkan bagi barang ekspor atau impor yang belum menyelesaikan kewajiban pabeannya sesuai ketentuan Undang-undang Pabean. Pihak yang bertanggung jawab atas barang impor yang belum dilunasi dan ditimbun di TPS ialah Pengusaha TPS. Pihak tersebut bertanggung jawab atas bea masuk sebelum diajukan pemberitahuan pabean oleh importir. Sesuai dengan peraturan barang timbunan, jangka waktu penimbunan barang paling lama ialah 30 (tiga puluh) hari. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi kepadatan barang di tempat penimbunan sementara dan waktu 30 (tiga puluh) hari tersebut sudah dianggap cukup bagi yang berkepentingan untuk mengurus segala kewajiban untuk pengeluaran barang dari tempat penimbunan sementara. Jika barang yang ada di tempat penimbunan sementara tidak dikeluarkan lebih dari jangka waktu yang ditetapkan maka barang tersebut dinyatakan sebagai barang yang tidak dikuasai.

Barang-barang yang ditimbun di tempat penimbunan sementara, selama belum dinyatakan sebagai barang yang tidak dikuasai, merupakan tanggung jawab pengusaha tempat penimbunan sementara; termasuk jika terjadi kerusakan atau kehilangan terhadap barang tersebut.

Tempat penimbunan sementara dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu tempat penimbunan sementara (TPS), tempat penimbunan berikat (TPB), dan tempat penimbunan pabean (TPP).

Tempat Penimbunan Berikat (TPB) adalah bangunan, tempat, atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang digunakan untuk menimbung barang dengan tujuan tertentu dengan mendapatkan penangguhan bea masuk. Barang-barang yang mendapatkan penangguhan bea masuk dengan dimasukkan ke dalam tempat penimbunan berikat adalah barang-barang yang ditujukan untuk barang impor untuk dipakai, dikeluarkan ke tempat penimbunan berikat lainnya atau diekspor, dan sejenisnya. Barang-barang yang ada di dalam tempat penimbunan berikat dapat dikeluarkan dari dengan tujuan untuk diimpor untuk dipakai, diolah, diekspor baik belum atau sudah diolah, diangkut terus atau diangkut lanjut.

Sementara Tempat Penimbunan Pabean sesuai dengan Undang-undang Kepabeanan adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu, yang disediakan oleh pemerintah di setiap kantor pabean. Kegunaan dari tempat penimbunan pabean adalah untuk menimbun barang yang dinyatakan tidak dikuasai, dikuasai oleh Negara, atau barang yang menjadi milik Negara. Mengenai penunjukkan tempat lain yang menjadi tempat penimbunan pabean berada dibawah keputusan Menteri Keuangan.

Terkait dengan jangka timbun barang pada tempat penimbunan sementara, barang yang melebihi batas waktu yang diberikan untuk menimbun yaitu 30 hari, akan dinyatakan oleh pejabat Bea dan Cukai sebagai barang yang tidak dikuasai. Macam-macam barang yang tidak dikuasai antara lain adalah:

  1. Barang yang ditimbun lebih dari 30 hari di TPS yang ada di area pelabuhan atau 60 hari jika TPS tersebut ada diluar area pelabuhan.
  2. Barang yang berada di TPB yang sudah dicabut izinnya lebih dari 30 hari.
  3. Barang kiriman pos yang ditolak oleh penerima dan tidak bisa dikirim kembali keluar daerah pabean.
  4. Barang kiriman pos yang diterima kembali di dalam daerah pabean namun tidak diselesaikan kewajibannya dalam waktu 30 hari.

Terhadap barang-barang di atas akan dipindahkan ke TPP dan akan timbul biaya sewa gudang yang besarnya ditetapkan Menteri. Ketika barang berada di TPP maka pejabat Bea dan Cukai waijb memberitahu kepada pemilik barang dalam jangka waktu 60 hari bahwa barang akan dilelang jika kewajiban tidak diselesaikan. Ketika barang belum dilelang, maka barang dapat diimpor untuk dipakai, diekspor kembali, dibatalkan ekspornya, diekspor, dan dikeluarkan ke TPB; semuanya dilakukan ketika biaya terusan sudah dilunasi. Sedangkan barang yang tidak dikuasai adalah barang yang mudah busuk dan harus dimusnahkan, tidak tahan lama, atau pengurusannya memerlukan biaya tinggi, barang yang dibatasi atau dilarang yang melanggar ketentuan impor atau ekspor.

Pelelangan terjadi ketika setelah 60 hari barang berada di TPP dan tidak diurus kewajiban pabeannya. Pelelangan dilakukan oleh kantor lelang Negara. Hasil lelang setelah dikurangi bea masuk, pajak, dan biaya operasional lain disediakan untuk pemilik barang. Pemilik barang yang tidak mengambil uang hasil lelang tersebut dalam jangka waktu 90 hari sejak terbitnya pemberitahuan tertulis maka uangnya akan menjadi milik Negara.

Semoga bermanfaat 🙂

Berlangganan dan Download E-Book Bagus

* indicates required

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Gratis
E-BOOK BAGUS TENTANG PERSONAL DEVELOPMENT DAN MOTIVASI